Percakapan berikut menggambarkan kegiatan sehari-hari masyarakat ketika akan menanam jagung di ladang. Dialog ini disajikan dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Dayak Uud Danum dialek Dohoi dan Bahasa Indonesia, sehingga mudah dipahami sekaligus membantu dalam pembelajaran bahasa daerah.
Percakapan
A: Ihkoq kani’ noku amoh ngohkoih tuh?
(Kamu mau pergi ke mana pagi ini?)
B: Ahkuq kani’ tulaq noku umoq ngomu’lan kotobung.
(Saya mau pergi ke ladang untuk menanam jagung.)
A: Umbot noh koq ngohkap umoq leh?
(Apakah ladangnya sudah dibersihkan?)
B: Umbot, ma’lom ahkuq ngomawo uru’ a ahkai tanaq a tou kongomulan
(Sudah. Kemarin saya membersihkan rumput agar tanahnya siap ditanami.)
A: Non ko’lo ihkoq ngomulan kotobung?
(Bagaimana cara menanam jagung di ladang?)
B: Tanaq kongolah ho’liq, kavum napa’ lu’ang deneq suang duo ngintoi iyam to’luq biji kotovung.
(Tanah diolah dahulu, lalu dibuat lubang kecil dan dimasukkan dua atau tiga biji jagung.)
A: U’liq erih inon hinoq jo haruis konuan?
(Setelah ditanam apa yang harus dilakukan?)
B: Komulan erih haruis sonyorunuh kavun do’lang uru’ pomorasih ahkan kotovung tou nyuluh pios.
(Tanamannya harus dirawat dan rumput liar dibersihkan agar jagung tumbuh dengan baik.)
Melalui percakapan sederhana ini, kita dapat memahami bagaimana kegiatan menanam jagung dilakukan di ladang. Selain memperlihatkan proses bertani, dialog ini juga membantu memperkenalkan penggunaan Bahasa Dayak Uud Danum dialek Dohoi dalam kehidupan sehari-hari.



