Bukan Sekedar Kata: Kemendesakan Belajar Bahasa Daerah

Saya bukan ahli bahasa, tetapi ada satu hal yang cukup mengganggu setiap kali saya mencoba berbicara menggunakan bahasa daerah saya—Bahasa Dayak Uud Danum dengan dialek Dohoi. Alih-alih merasa diterima sebagai bagian dari komunitas bahasa tersebut, saya justru sering mendapat kritik bahwa cara berbicara saya terdengar seperti orang asing yang baru belajar. “Boku’loh”, demikian istilah yang digunakan untuk kondisi ini.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Menurut pengamatan pribadi, ada beberapa pemicu yang menyebabkan keterasingan bahasa daerah dalam kehidupan kita sehari-hari:

Minimnya Penggunaan Sehari-hari
Bagi perantau seperti saya, kesempatan menggunakan bahasa daerah sangat jarang. Lingkungan tempat tinggal yang jauh dari komunitas penutur asli membuat bahasa ini semakin sulit dipertahankan.
Kurangnya Padanan Kata
Tidak semua istilah dalam bahasa daerah memiliki padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia, sehingga banyak dari kita kesulitan dalam menerjemahkan dan menggunakannya secara spontan.
Gengsi dan Minder
Ada stigma bahwa menggunakan bahasa daerah terkesan “kampungan.” Akibatnya, banyak orang yang lebih memilih berkomunikasi dengan bahasa Indonesia atau bahkan bahasa asing agar terlihat lebih modern.
Kurangnya Kebanggaan dari Orang Tua
Ironisnya, banyak orang tua di kampung halaman yang tidak merasa bangga dengan bahasanya sendiri. Jika kedua orang tua memiliki latar belakang bahasa daerah yang berbeda, sering kali pilihan mereka adalah menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi utama di rumah.
Hal ini membawa kita pada pertanyaan penting: Apakah kita benar-benar dapat menyebut diri sebagai orang dari daerah tertentu jika bahasa daerahnya sendiri tidak kita pahami?


Menyadari kegelisahan ini, saya dan seorang kawan yang memiliki keresahan serupa berinisiatif untuk menciptakan media komunikasi berbasis sosial media untuk mengenalkan dan melestarikan Bahasa Dayak Uud Danum dengan dialek Dohoi. Kami menamai akun ini @Ulunjuoi_Bokesah, yang berarti “Orang Hulu Bercerita.” Nama ini mencerminkan identitas dan kebanggaan kami sebagai orang pedalaman Kalimantan Barat. Adapun secara latar belakang pendidikan saya sendiri pernah mengenyam pendidikan pada Fakultas Ekonomi dengan jurusan manajemen di sebuah Universitas Swasta di Surabaya sedangkan kawan saya adalah seorang mahasiswa jurusan Sistem Informasi di salah satu Institut Teknologi milik swasta di Kota yang sama.

Perjalanan kami tidak selalu mulus. Kami menerima banyak masukan dan kritikan, termasuk saran perbaikan ejaan dan ide-ide dari para penutur asli yang menghubungi kami melalui DM maupun chat pribadi. Namun, di situlah titik terang yang kami harapkan. Meski skala gerakan ini masih kecil, kami percaya bahwa inisiatif ini adalah langkah awal menuju kebangkitan bahasa daerah.

Mari Berperan!
Menjaga bahasa daerah bukan hanya tugas akademisi atau budayawan, tetapi tanggung jawab kita bersama. Jika kita ingin bahasa daerah tetap hidup, kita harus mulai dari diri sendiri—dengan berani menggunakannya dalam percakapan, mengajarkannya kepada generasi berikutnya, serta mendukung upaya pelestarian melalui media apa pun yang kita miliki.

Meminjam slogan yang sudah populer dan sering dituturkan untuk menutup tulisan ini

Jika bukan kita, siapa lagi? Jika bukan sekarang, kapan lagi?

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *