Bahasa Dohoi bukan hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga mencerminkan struktur sosial dan nilai-nilai kearifan lokal masyarakatnya. Salah satu wujudnya tampak dalam penggunaan sapaan atau panggilan informal yang sangat khas dan penuh makna.
Sapaan Berdasarkan Jenis Kelamin dan Situasi Sosial
Dalam pergaulan sehari-hari, masyarakat Dayak Uud Danum dialek Dohoi menggunakan sapaan tertentu untuk menyapa seseorang — terutama yang belum dikenal namanya atau lebih muda/seusia. Sapaan ini dibedakan berdasarkan jenis kelamin dan konteks penggunaannya:
🧑 Untuk Laki-laki:
- Ovang
- Oveng
- Gas/Bakas
- Otong/Tong
- Rong/Urong
👧 Untuk Perempuan:
- Avik
- Inoi
🌿 Universal (bisa untuk laki-laki atau perempuan selama usianya lebih muda):
- Nong
- Unong / Onong
Sapaan-sapaan ini memiliki fungsi sosial yang sangat penting:
- Menunjukkan keramahan dan keakraban, meskipun belum saling mengenal.
- Memudahkan komunikasi awal, terutama di lingkungan sosial yang bersifat komunal.
- Menjaga sopan santun, tanpa harus menggunakan nama pribadi.
Contoh penggunaannya dalam percakapan sehari-hari:
- “kamu dari mana, Tong?” (Tahkan anoh koq, Tong?)
- “Avik, bisa bantu sebentar, ya!” (Avik, tou’ dohop ngonyoluh leh?)
- “Unong, ayo kita main!” (Unong, ayo tok borasaq!)
Lebih dari Sekadar Sapaan
Meskipun terdengar sederhana, sapaan ini adalah bagian dari sistem sosial yang egaliter namun tetap penuh penghormatan dalam budaya Dayak Uud Danum. Penggunaan sapaan yang tepat menunjukkan pemahaman terhadap norma sosial dan budaya lokal. Selain itu, cara menyapa ini juga memperlihatkan kekuatan bahasa dalam membangun hubungan sosial yang harmonis.
Menjaga Warisan Lewat Bahasa
Dengan arus modernisasi yang masuk ke wilayah pedalaman, penggunaan bahasa daerah seperti Dohoi perlahan mengalami penurunan. Banyak generasi muda yang lebih akrab dengan bahasa Indonesia atau bahasa digital ketimbang bahasa ibunya sendiri. Maka, pelestarian seperti:
- Pengajaran bahasa daerah di sekolah lokal,
- Dokumentasi kosakata dan struktur kalimat, serta
- Penggunaan aktif dalam kegiatan adat dan komunitas
…menjadi langkah penting untuk menjaga identitas budaya dan kekayaan linguistik yang unik ini.
Bahasa adalah Jembatan Antarinsan
Sapaan seperti ovang, avik, dan unong bukan hanya rangkaian huruf atau bunyi. Ia adalah jembatan—yang menyatukan individu dengan komunitas, generasi muda dengan leluhurnya, dan manusia dengan lingkungannya. Dengan mengenal dan menghargai bahasa Dohoi, kita turut menjaga warisan budaya Dayak Uud Danum yang penuh makna dan nilai-nilai luhur.



