Teriakan Sunyi dari Kecamatan Serawai

Kecamatan Serawai di Kabupaten Sintang kembali menjadi perbincangan, bukan karena prestasi pembangunan, tetapi karena rangkaian keluhan warganya yang kian lantang terlihat di media sosial. Foto-foto jalan berlumpur, kendaraan terhenti, hingga kisah perjalanan penuh risiko kini menjadi dokumentasi sehari-hari yang memalukan bagi siapa pun yang mengaku peduli pada kesejahteraan masyarakat.

Ini bukan masalah baru. Sudah terlalu lama warga Serawai hidup dalam kondisi akses transportasi yang buruk. Setiap musim hujan, jalur darat berubah menjadi kubangan panjang yang membuat mobilitas hampir mustahil. Ketika jalan menjadi musuh utama warga, maka yang terganggu bukan hanya pergerakan, tetapi juga martabat mereka sebagai bagian dari negara yang menjanjikan pemerataan pembangunan.

Yang punya kuasa tidak boleh lagi menutup mata. Akses jalan yang layak bukan sekadar persoalan teknis, melainkan penentu langsung kualitas hidup masyarakat. Ketika infrastruktur dibiarkan rusak, maka pertumbuhan ekonomi berhenti, peluang usaha mengering, harga kebutuhan melambung, dan akses terhadap layanan dasar menjadi pertaruhan.

Hal yang lebih menyedihkan, keresahan ini bukan sekadar opini segelintir orang. Ia hadir sebagai akumulasi keluhan yang terekam melalui status-status warga di media sosial. Unggahan yang semakin hari semakin menyayat, memperlihatkan bahwa mereka sudah kehabisan ruang untuk berharap. Ketika warga mengeluh di ruang publik, itu artinya saluran aspirasi formal tak lagi mereka percayai.

Perlu diakui, ini adalah PR besar. PR yang selalu saja muncul dalam setiap janji politik, tetapi secara ironis justru menjadi janji yang paling sering gagal ditepati. Infrastruktur Serawai tidak akan membaik hanya dengan seremoni, rapat koordinasi, atau kunjungan terbatas yang berakhir tanpa tindak lanjut. Yang dibutuhkan adalah keputusan politik yang sungguh-sungguh dan realisasi anggaran yang konsisten.

Serawai memiliki potensi besar di berbagai sektor. Namun potensi sebesar apa pun akan tetap menjadi teori jika akses transportasi tidak diperbaiki. Tidak ada pembangunan ekonomi yang dapat hidup di atas jalan yang mati. Tidak ada kesejahteraan yang bisa lahir dari wilayah yang terisolasi oleh kelalaian.

Jika warga masih harus menghadapi jalan seperti ini pada tahun-tahun mendatang, maka kegagalan itu bukan lagi sekadar teknis, tetapi moral. Karena membiarkan rakyat hidup dalam kesulitan yang bisa diatasi adalah bentuk ketidakpedulian yang tidak bisa dimaafkan.

Serawai menunggu, dan sudah terlalu lama menunggu. Saatnya Yang punya kuasa berhenti memberi alasan dan mulai memberi bukti. (OC).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *