Menuai padi merupakan salah satu momen paling dinanti oleh masyarakat pedesaan, terutama bagi mereka yang menggantungkan hidup dari hasil bertani. Setelah berbulan-bulan merawat tanaman padi mulai dari menanam bibit, menyiangi rumput liar, hingga menjaga dari hama dan burung, masa panen menjadi puncak kerja keras yang membawa kebahagiaan tersendiri bagi para petani.
Persiapan Sebelum Menuai
Sebelum turun ladang, petani biasanya memastikan padi sudah benar-benar matang. Tanda-tandanya bisa dilihat dari warna bulir padi yang berubah keemasan dan batangnya mulai merunduk karena beratnya bulir yang berisi. Alat-alat seperti ani-ani (alat tuai tradisional), dan tikar atau karung untuk menampung hasil panen pun disiapkan sejak pagi-pagi sekali, agar pekerjaan bisa selesai sebelum matahari terlalu terik.
Kebersamaan di Musim Panen
Menuai padi jarang dilakukan sendirian. Di banyak daerah, kegiatan ini menjadi ajang gotong royong antar tetangga maupun keluarga besar. Sambil bekerja, obrolan ringan dan canda tawa mengiringi setiap ruas batang padi yang berhasil dipotong. Tradisi saling membantu ini juga sering disebut sebagai bentuk kearifan lokal yang menjaga kekompakan warga, sekaligus mempercepat proses panen yang berkejaran dengan cuaca.
Proses Setelah Panen
Setelah dipotong, bulir padi biasanya dimasukan dalam satu wadah dalam bentuk keranjang panen sebelum diangkut ke tempat pengeringan kemudian dirontokkan menggunakan alat perontok atau dengan cara diinjak-injak. Padi yang sudah dirontokkan kemudian dijemur di bawah sinar matahari selama beberapa hari hingga kadar airnya cukup rendah, sebelum akhirnya siap ditumbuk dengan lesung dan alu atau digiling dengan mesin modern menjadi beras atau disimpan pada lumbung padi.

Makna di Balik Musim Panen
Bagi masyarakat pedalaman, musim panen padi bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan juga sarat makna budaya dan rasa syukur. Banyak daerah bahkan mengadakan upacara adat sebagai bentuk terima kasih kepada alam atas hasil panen yang melimpah. Melalui kegiatan menuai padi, generasi muda pun turut belajar menghargai proses panjang di balik sebutir nasi yang setiap hari mereka santap.
Kata Yang Biasa Digunakan
Sebagai bagian dari upaya pelestarian bahasa dan budaya Dayak Uud Danum (Dohoi), beberapa istilah penting yang berkaitan dengan proses bercocok tanam padi turut diperkenalkan dalam bahasa Dohoi, yaitu nuhkan (menanam padi), ngomawo (menyiangi rumput), ngohtom (menuai atau memanen padi), mucak paroi (menumbuk padi), uvung (lumbung). Penggunaan kosakata ini tidak hanya memperkaya pemahaman terhadap bahasa daerah, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenalkan nilai-nilai kehidupan masyarakat Dayak yang erat kaitannya dengan pertanian, gotong royong, serta penghormatan terhadap alam. Dengan mengenal dan menggunakan istilah-istilah tersebut, generasi muda diharapkan dapat turut menjaga keberlangsungan bahasa Dohoi sebagai bagian dari warisan budaya yang berharga.

